Search This Blog:

Select Language To Translate Articles Here:

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

2020-05-20

Bagaimana Agar Bisa Survive Sebagai Seorang Penerjemah

Salam sejahtera para rekan Penerjemah.

Kali ini aku ingin berceloteh sedikit tentang profesi seorang Penerjemah.

Bagi orang awam, profesi seorang Penerjemah itu kedengarannya cukup keren dan bergengsi, apalagi kalau mereka melihat materi yang akan diterjemahkan itu bersumber dari bidang ilmu tertentu yang di atas kertas tidaklah mudah untuk dialihbahasakan. Komentar yang keluar dari mulut orang-orang awam ini kalau bukan ungkapan terkejut, tentu merupakan ungkapan pujian.

Wah, hebat dong! Atau, 

Wah, susah dong kerjanya!

Kira-kira seperti itu komentarnya. 

Memang betul kerjanya tidak gampang. Menerjemahkan itu pekerjaan yang cukup sulit dan memeras otak. Kalau seorang Penerjemah tidak suka belajar, dia pasti akan kesulitan dalam menerjemahkan teks sumber yang berasal dari suatu bidang ilmu tertentu.

Jadi tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan seperti ini. Apalagi tidak semua orang memiliki ketekunan, kesabaran dan semangat belajar yang tinggi. Itu sebabnya banyak yang kepingin menjadi Penerjemah, akan tetapi yang bisa bertahan dengan profesi ini tidak banyak jumlahnya. 

Dipandang dari segi tingkat kesulitan dari pekerjaan ini, memang Penerjemah adalah profesi yang keren, cukup bergengsi dan membanggakan. 

Akan tetapi di balik itu semua, kita harus menerima sebuah kenyataan, bahwa sampai dengan detik ini, profesi Penerjemah belum cukup mendapatkan penghargaan yang memadai dari masyarakat kita. Hal ini harus kita akui dan tak perlu disangkal kebenarannya. 

Walaupun dari pihak pemerintah, dalam hal ini Menteri Keuangan sudah mengeluarkan Peraturan Resmi tentang tarif penerjemahan yang cukup tinggi, yang bisa dijadikan  pedoman dan andalan bagi seorang Penerjemah Freelance dalam melakukan penerjemahan. Akan tetapi, sayangnya di dunia nyata, para Penerjemah sulit menerapkan dan memberlakukan tarif resmi sebesar ini, karena kenyataannya sulit mendapatkan klien yang rela membayar sebesar tarif ini apa pun alasannya.

Oleh karena itulah, para Penerjemah Freelance banyak yang terpaksa menurunkan dan menyesuaikan kembali tarif ini demi mendapatkan proyek penerjemahan. 

Kalau masyarakat kita saat ini belum bisa menghargai profesi Penerjemah dengan selayaknya dan masih tidak rela membayar tinggi ongkos Penerjemahan, maka adalah suatu hal yang mustahil bagi seorang Penerjemah bisa menetapkan tarif yang setinggi mungkin, walaupun Pemerintah sudah menaungi profesi ini dengan menetapkan acuan tarif yang terus meningkat  setiap tahunnya. 

Ini baru fakta yang terjadi di dunia Penerjemah Bebas atau dunia freelance. 

Bagaimana dengan dunia kerja saat ini?

Sama saja. Tidak banyak bos perusahaan yang menghargai dan rela menggaji tinggi Penerjemahnya. Kebanyakan Penerjemah tidak mendapatkan gaji yang Ia harapkan. Ini baru perusahaan lokal, belum lagi yang perusahaan asing, misalnya perusahaan dari China. Notabene gaji yang mereka berikan untuk karyawan Indonesia malah jauh lebih rendah. 

Memang ada Penerjemah yang mendapatkan gaji yang cukup tinggi, tapi biasanya Penerjemah ini tidak cuma menerjemah saja di kantor, tapi Ia juga harus mengerjakan pekerjaan yang lain. Kenyataannya yang bergaji lebih tinggi, jumlahnya juga jauh lebih sedikit. Fakta ini tak perlu ditutup-tutupi dan disangkal. Memang begitulah kenyataannya. Maka beruntunglah Anda-Anda yang puas dengan penghasilan yang Anda terima sekarang. Anda harus bersyukur, karena banyak dari rekan Anda yang tidak bisa menikmati hal ini. 

Tidak heran juga, jika banyak rekan Penerjemah yang mencari rejeki di dunia freelance Internasional. Tapi sayangnya dunia yang satu ini pun tidak ramah dan tidak mudah untuk dilakoni.

Walaupun mereka bisa memasang dan menerima tarif yang lebih tinggi daripada tarif yang didapatkan dari klien lokal, akan tetapi para Penerjemah Freelance Internasional ini harus menghadapi tantangan yang jauh lebih berat, yaitu scammer (Penipu) yang merajalela di dunia Penerjemah Internasional.

Scammer ini bisa Klien langsung, bisa juga adalah Agensi Internasional, baik kecil maupun besar, baik yang tidak terkenal maupun yang sudah punya nama. Kalau memang niat menipu, mereka tidak mempedulikan reputasi lagi. Yang penting bisa menerima hasil tanpa membayar. 

Mengapa Scammer gampang menipu para Penerjemahnya? Pertama, karena sistem mereka, setelah terima hasil penerjemahan baru membayar fee Penerjemahnya. Kedua, karena mereka jauh dari kita. Jadi kalau mereka tidak membayar, siapa yang tahu?

Mau menuntut? Bagaimana caranya? Percuma. Tidak mungkin bisa. 

Para Penerjemah Freelance, pernahkah Anda ditipu Scammer? 

Kalau Anda bilang tidak pernah. Itu berarti Anda cukup beruntung. Klien-klien Anda semuanya adalah orang-orang yang jujur, bukan oknum-oknum yang licik dan penuh dengan tipu muslihat. 

Kalau Anda mau bermain atau mencari nafkah di dunia ini, maka Anda harus membekali diri Anda dengan segudang metode agar Anda tidak sampai kena tipu oleh para Scammer itu.

Aku tidak akan membahas di sini tentang apa saja trik-trik yang dilakukan oleh para scammer itu, karena bukan ini yang mau kubahas di dalam tulisan ini. 

Aku cuma ingin menggambarkan di sini, bahwa dunia Penerjemah itu tidaklah sekeren yang dibayangkan oleh orang awam dan bukanlah profesi yang mudah untuk ditekuni jika Anda tidak siap. 

Aku saja sebagai contoh. Aku bukanlah Penerjemah murni yang bergelut hanya di bidang penerjemahan saja. Sampai sekarang aku masih bekerja di perusahaan. Profesi aku di perusahaan juga bukan murni seorang Penerjemah saja, masih ada pekerjaan lain yang harus kulakukan selain menerjemah. Aku melakukan double-role di kantor. Pekerjaan Freelance hanya kutekuni di waktu senggang saja, itu pun kalau masih ada waktu. Di sela-sela waktuku, kuhabiskan dengan mengajar bahasa asing, menulis, menjadi Blogger, dsb. Pokoknya tidak murni hanya sebagai Penerjemah. 

Setiap kali aku menulis di Blog aku, aku selalu menyarankan agar para Penerjemah selalu mau meluangkan waktunya untuk belajar. Belajar itu sangat berguna, karena bukan saja bisa meningkatkan skill penerjemahan kita, melainkan juga bisa menambah ilmu dan wawasan. Dengan bertambahnya ilmu dan wawasan, karir seorang Penerjemah bisa terbantu dan sudah barang tentu dengan meningkatnya skill atau keahlian, kesempatan untuk meningkatkan penghasilan juga terbuka lebih lebar. 

Boleh saja bagi yang ingin murni menjadi Penerjemah, karena suka, minat atau karena panggilan hidup. Akan tetapi tak ada salahnya kalau kita mau belajar lagi. Kalau rejeki kita bisa bertambah atau penghasilan kita meningkat, yang mendapat untung juga kita sendiri, iya kan? 

Profesi Penerjemah juga merupakan sebuah profesi yang terhormat. Bekerjalah dengan hati dan penuh cinta. Menerjemahlah dengan profesional dan penuh integritas. Jagalah nama baik dan bangunlah reputasi dengan baik. 

Jangan tergoda untuk membanting harga secara murah meriah demi mendapatkan proyek atau pekerjaan. Kalau Anda tidak bisa menghargai profesi Anda, maka siapa yang akan menghargai Anda dan profesi Anda? 

Tantangan sebagai Penerjemah semakin lama akan semakin banyak dan berat. Maka itu, kita sebagai seorang Penerjemah selain harus memiliki prinsip dalam bekerja, kita juga harus cekatan dalam berpikir dan bertindak. Memiliki prinsip bukan berarti kaku. Terlalu kaku atau keukeh juga tidak baik dan tidak menguntungkan, bahkan bisa berbalik mencelakakan diri sendiri. 

Dalam setiap kesulitan, temukan jalan dan alternatif lain. Aku malah menyarankan agar para Penerjemah untuk menambah skill-nya di bidang lain. Banyak bidang lain yang bisa digeluti di luar bidang penerjemahan. Bekali diri Anda dengan skill dan ilmu sebanyak mungkin selagi Anda masih muda dan masih berusia produktif. 

Akan tetapi belajar itu susah-susah gampang. Gampang kalau ada niat, sebaliknya akan susah jika tak termotivasi dengan benar. 

Jika suatu saat, pekerjaan seorang Penerjemah bisa dilakukan oleh Artificial Intelligent yang mampu menerjemahkan sama bagusnya dengan otak manusia, maka di saat itulah profesi Penerjemah tidak akan dibutuhkan lagi. 

Kapan waktunya? 

Mungkin 10 tahun lagi? 20 tahun lagi? Atau bahkan bisa lebih cepat? Bisa jadi! Siapa tahu? 

Jadi tantangan sebagai Penerjemah itu berat! Makanya Jika ingin survive, kita harus memiliki skill di bidang lain juga. Buat berjaga-jaga. 

Dunia berubah setiap saat. Nasib kita juga ikut berubah setiap waktu. Tidak mungkin kehidupan dan karir kita akan tetap sama tanpa ada perubahan sama sekali. 

Oleh karena itu, kita harus selalu siap menghadapi dan menerima tantangan itu. 

 

Sumber Foto: https://sogou.com

 

********