Search This Blog:

Select Language To Translate Articles Here:

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

2020-05-20

Bagaimana Agar Bisa Survive Sebagai Seorang Penerjemah

Salam sejahtera para rekan Penerjemah.

Kali ini aku ingin berceloteh sedikit tentang profesi seorang Penerjemah.

Bagi orang awam, profesi seorang Penerjemah itu kedengarannya cukup keren dan bergengsi, apalagi kalau mereka melihat materi yang akan diterjemahkan itu bersumber dari bidang ilmu tertentu yang di atas kertas tidaklah mudah untuk dialihbahasakan. Komentar yang keluar dari mulut orang-orang awam ini kalau bukan ungkapan terkejut, tentu merupakan ungkapan pujian.

Wah, hebat dong! Atau, 

Wah, susah dong kerjanya!

Kira-kira seperti itu komentarnya. 

Memang betul kerjanya tidak gampang. Menerjemahkan itu pekerjaan yang cukup sulit dan memeras otak. Kalau seorang Penerjemah tidak suka belajar, dia pasti akan kesulitan dalam menerjemahkan teks sumber yang berasal dari suatu bidang ilmu tertentu.

Jadi tidak semua orang bisa melakukan pekerjaan seperti ini. Apalagi tidak semua orang memiliki ketekunan, kesabaran dan semangat belajar yang tinggi. Itu sebabnya banyak yang kepingin menjadi Penerjemah, akan tetapi yang bisa bertahan dengan profesi ini tidak banyak jumlahnya. 

Dipandang dari segi tingkat kesulitan dari pekerjaan ini, memang Penerjemah adalah profesi yang keren, cukup bergengsi dan membanggakan. 

Akan tetapi di balik itu semua, kita harus menerima sebuah kenyataan, bahwa sampai dengan detik ini, profesi Penerjemah belum cukup mendapatkan penghargaan yang memadai dari masyarakat kita. Hal ini harus kita akui dan tak perlu disangkal kebenarannya. 

Walaupun dari pihak pemerintah, dalam hal ini Menteri Keuangan sudah mengeluarkan Peraturan Resmi tentang tarif penerjemahan yang cukup tinggi, yang bisa dijadikan  pedoman dan andalan bagi seorang Penerjemah Freelance dalam melakukan penerjemahan. Akan tetapi, sayangnya di dunia nyata, para Penerjemah sulit menerapkan dan memberlakukan tarif resmi sebesar ini, karena kenyataannya sulit mendapatkan klien yang rela membayar sebesar tarif ini apa pun alasannya.

Oleh karena itulah, para Penerjemah Freelance banyak yang terpaksa menurunkan dan menyesuaikan kembali tarif ini demi mendapatkan proyek penerjemahan. 

Kalau masyarakat kita saat ini belum bisa menghargai profesi Penerjemah dengan selayaknya dan masih tidak rela membayar tinggi ongkos Penerjemahan, maka adalah suatu hal yang mustahil bagi seorang Penerjemah bisa menetapkan tarif yang setinggi mungkin, walaupun Pemerintah sudah menaungi profesi ini dengan menetapkan acuan tarif yang terus meningkat  setiap tahunnya. 

Ini baru fakta yang terjadi di dunia Penerjemah Bebas atau dunia freelance. 

Bagaimana dengan dunia kerja saat ini?

Sama saja. Tidak banyak bos perusahaan yang menghargai dan rela menggaji tinggi Penerjemahnya. Kebanyakan Penerjemah tidak mendapatkan gaji yang Ia harapkan. Ini baru perusahaan lokal, belum lagi yang perusahaan asing, misalnya perusahaan dari China. Notabene gaji yang mereka berikan untuk karyawan Indonesia malah jauh lebih rendah. 

Memang ada Penerjemah yang mendapatkan gaji yang cukup tinggi, tapi biasanya Penerjemah ini tidak cuma menerjemah saja di kantor, tapi Ia juga harus mengerjakan pekerjaan yang lain. Kenyataannya yang bergaji lebih tinggi, jumlahnya juga jauh lebih sedikit. Fakta ini tak perlu ditutup-tutupi dan disangkal. Memang begitulah kenyataannya. Maka beruntunglah Anda-Anda yang puas dengan penghasilan yang Anda terima sekarang. Anda harus bersyukur, karena banyak dari rekan Anda yang tidak bisa menikmati hal ini. 

Tidak heran juga, jika banyak rekan Penerjemah yang mencari rejeki di dunia freelance Internasional. Tapi sayangnya dunia yang satu ini pun tidak ramah dan tidak mudah untuk dilakoni.

Walaupun mereka bisa memasang dan menerima tarif yang lebih tinggi daripada tarif yang didapatkan dari klien lokal, akan tetapi para Penerjemah Freelance Internasional ini harus menghadapi tantangan yang jauh lebih berat, yaitu scammer (Penipu) yang merajalela di dunia Penerjemah Internasional.

Scammer ini bisa Klien langsung, bisa juga adalah Agensi Internasional, baik kecil maupun besar, baik yang tidak terkenal maupun yang sudah punya nama. Kalau memang niat menipu, mereka tidak mempedulikan reputasi lagi. Yang penting bisa menerima hasil tanpa membayar. 

Mengapa Scammer gampang menipu para Penerjemahnya? Pertama, karena sistem mereka, setelah terima hasil penerjemahan baru membayar fee Penerjemahnya. Kedua, karena mereka jauh dari kita. Jadi kalau mereka tidak membayar, siapa yang tahu?

Mau menuntut? Bagaimana caranya? Percuma. Tidak mungkin bisa. 

Para Penerjemah Freelance, pernahkah Anda ditipu Scammer? 

Kalau Anda bilang tidak pernah. Itu berarti Anda cukup beruntung. Klien-klien Anda semuanya adalah orang-orang yang jujur, bukan oknum-oknum yang licik dan penuh dengan tipu muslihat. 

Kalau Anda mau bermain atau mencari nafkah di dunia ini, maka Anda harus membekali diri Anda dengan segudang metode agar Anda tidak sampai kena tipu oleh para Scammer itu.

Aku tidak akan membahas di sini tentang apa saja trik-trik yang dilakukan oleh para scammer itu, karena bukan ini yang mau kubahas di dalam tulisan ini. 

Aku cuma ingin menggambarkan di sini, bahwa dunia Penerjemah itu tidaklah sekeren yang dibayangkan oleh orang awam dan bukanlah profesi yang mudah untuk ditekuni jika Anda tidak siap. 

Aku saja sebagai contoh. Aku bukanlah Penerjemah murni yang bergelut hanya di bidang penerjemahan saja. Sampai sekarang aku masih bekerja di perusahaan. Profesi aku di perusahaan juga bukan murni seorang Penerjemah saja, masih ada pekerjaan lain yang harus kulakukan selain menerjemah. Aku melakukan double-role di kantor. Pekerjaan Freelance hanya kutekuni di waktu senggang saja, itu pun kalau masih ada waktu. Di sela-sela waktuku, kuhabiskan dengan mengajar bahasa asing, menulis, menjadi Blogger, dsb. Pokoknya tidak murni hanya sebagai Penerjemah. 

Setiap kali aku menulis di Blog aku, aku selalu menyarankan agar para Penerjemah selalu mau meluangkan waktunya untuk belajar. Belajar itu sangat berguna, karena bukan saja bisa meningkatkan skill penerjemahan kita, melainkan juga bisa menambah ilmu dan wawasan. Dengan bertambahnya ilmu dan wawasan, karir seorang Penerjemah bisa terbantu dan sudah barang tentu dengan meningkatnya skill atau keahlian, kesempatan untuk meningkatkan penghasilan juga terbuka lebih lebar. 

Boleh saja bagi yang ingin murni menjadi Penerjemah, karena suka, minat atau karena panggilan hidup. Akan tetapi tak ada salahnya kalau kita mau belajar lagi. Kalau rejeki kita bisa bertambah atau penghasilan kita meningkat, yang mendapat untung juga kita sendiri, iya kan? 

Profesi Penerjemah juga merupakan sebuah profesi yang terhormat. Bekerjalah dengan hati dan penuh cinta. Menerjemahlah dengan profesional dan penuh integritas. Jagalah nama baik dan bangunlah reputasi dengan baik. 

Jangan tergoda untuk membanting harga secara murah meriah demi mendapatkan proyek atau pekerjaan. Kalau Anda tidak bisa menghargai profesi Anda, maka siapa yang akan menghargai Anda dan profesi Anda? 

Tantangan sebagai Penerjemah semakin lama akan semakin banyak dan berat. Maka itu, kita sebagai seorang Penerjemah selain harus memiliki prinsip dalam bekerja, kita juga harus cekatan dalam berpikir dan bertindak. Memiliki prinsip bukan berarti kaku. Terlalu kaku atau keukeh juga tidak baik dan tidak menguntungkan, bahkan bisa berbalik mencelakakan diri sendiri. 

Dalam setiap kesulitan, temukan jalan dan alternatif lain. Aku malah menyarankan agar para Penerjemah untuk menambah skill-nya di bidang lain. Banyak bidang lain yang bisa digeluti di luar bidang penerjemahan. Bekali diri Anda dengan skill dan ilmu sebanyak mungkin selagi Anda masih muda dan masih berusia produktif. 

Akan tetapi belajar itu susah-susah gampang. Gampang kalau ada niat, sebaliknya akan susah jika tak termotivasi dengan benar. 

Jika suatu saat, pekerjaan seorang Penerjemah bisa dilakukan oleh Artificial Intelligent yang mampu menerjemahkan sama bagusnya dengan otak manusia, maka di saat itulah profesi Penerjemah tidak akan dibutuhkan lagi. 

Kapan waktunya? 

Mungkin 10 tahun lagi? 20 tahun lagi? Atau bahkan bisa lebih cepat? Bisa jadi! Siapa tahu? 

Jadi tantangan sebagai Penerjemah itu berat! Makanya Jika ingin survive, kita harus memiliki skill di bidang lain juga. Buat berjaga-jaga. 

Dunia berubah setiap saat. Nasib kita juga ikut berubah setiap waktu. Tidak mungkin kehidupan dan karir kita akan tetap sama tanpa ada perubahan sama sekali. 

Oleh karena itu, kita harus selalu siap menghadapi dan menerima tantangan itu. 

 

Sumber Foto: https://sogou.com

 

********

2020-02-20

Belajar Idiom Api Di Depan Mata Tak Bisa Dipadamkan Oleh Air Yang Terlampau Jauh 远水不救近火

远水不救近火 

Pada zaman negeri-negeri berperang, Qi, Jin dan Chu adalah negeri-negeri yang besar dan kuat.
 
Raja Lu Mu Gong dari negeri Lu sangat takut negeri Lu akan dicaplok oleh negeri Qi. Oleh karena itu, Raja Lu ingin bersekutu dengan Chu dan  Jin, dua negeri yang lebih kuat tapi jauh.

Tapi Menteri Li Mu tidak sependapat dengan sang Raja. Ia berusaha membujuk Raja:

Orang-orang Zhao memang pandai berenang. Tapi kalau di tempat kita ada orang yang tenggelam, mau minta tolong sama orang Zhao juga percuma, karena saat mereka datang, orang kita sudah keburu mati. Lautan memang luas. Air laut melimpah dan takkan pernah ada habisnya. Tapi kalau di tempat kita terjadi kebakaran, laut begitu jauh, sebelum air laut kita ambil, kota kita sudah keburu habis terbakar. Meskipun Jin dan Chu adalah negeri yang kuat, tapi jarak mereka terlalu jauh dari tempat kita. Saat kita mendapat kesulitan, mereka juga tidak bisa apa-apa, meskipun mereka mau membantu. Sebaliknya, negeri Qi adalah tetangga kita yang paling dekat. Seharusnya kita menjaga hubungan baik dengan mereka. Dengan begitu keselamatan negeri kita bisa lebih terjamin.

Apa makna dari idiom ini?

远水不救近火
遠水不救近火
Yuǎn shuǐ bù jiù jìn huǒ
Dibaca: yuen shui pu ciu cin huo
Api di depan mata tak bisa dipadamkan oleh air yang terlampau jauh

Maknanya:

Problem yang mendesak tidak bisa diselesaikan dengan solusi yang lambat.



Sumber Gambar: 成语故事


********


2019-11-16

Belajar Idiom Belalang Mengincar Tonggeret 螳螂捕蝉

Belalang Mengincar Tonggeret - 螳螂捕蝉 

Pada zaman Musim Semi – Musim Gugur, Raja Wu memutuskan untuk menyerang Negeri Chu.

Suatu hari Raja Wu berkata kepada Menteri-Menterinya:
 
Siapa pun tidak bisa menghalangi keputusanku. Yang mencoba menghalangi, akan kuhukum mati !

Ada seorang Perwira Muda ingin mencoba membujuk Raja. Perwira ini mengeluarkan sebuah katapel. Dia berjalan mondar-mandir di belakang Taman Istana.

Raja Wu terheran-heran melihatnya, lalu menghampirinya sambil bertanya:
 
 Anda sedang apa di bawah pohon? Lihat bajumu sampai basah kena embun.

Sang Perwira menjawab:
 
Baginda, lihatlah ! Di atas pohon ada seekor Tonggeret. Ia bersiul-siul di atas ranting yang tinggi. Tapi Ia tidak tahu bahwa ada seekor Belalang di sampingnya yang sedang mengincarnya. Tapi si Belalang juga tidak sadar, bahwa di belakangnya juga ada seekor Burung Kepodang sedang menjulurkan leher untuk menerkamnya ! Tapi Burung ini juga tidak tahu, bahwa aku sedang membidiknya dengan katapel. Ketiga ekor binatang ini hanya memikirkan keuntungan yang nampak di depan mata, tapi justru tidak mempedulikan bahaya yang sedang mengancam di belakangnya !

Mendengar perkataannya, mendadak Raja Wu tersadar. Baginda mengangguk-anggukkan kepala dan membenarkan pernyataan sang Perwira.

Akhirnya Raja Wu mengurungkan niatnya untuk menyerang Kerajaan Chu.


Apa makna dari idiom ini?


螳螂捕蝉
螳螂捕蟬
Táng láng bǔ chán
Dibaca: thang lang pu chan
Belalang Mengincar Tonggeret


Maknanya:

Hanya memikirkan keuntungan di depan mata, tanpa mempedulikan akibat yang akan ditanggung kemudian.


Sumber Gambar: 成语故事


********




2019-10-06

Tahukah Anda Ada Berapa Macam Teh Tiongkok Dan Apa Saja Teh Yang Terkenal di Tiongkok

Teh Tiongkok 

Berdasarkan cara pembuatannya, Teh Tiongkok dapat dikategorikan sbb.:

TEH HIJAU (绿茶):

Teh jenis ini tidak ada fermentasi. Saat diseduh, warna air teh dan daun tehnya tetap hijau. Makanya disebut teh hijau. Teh kategori ini ada beberapa jenis yang bermutu tinggi. Teh ini diberi nama sesuai dengan nama tempat penghasil teh tersebut. Seperti misalnya, Hangzhou Longjing (杭州龙井), Dongting Biluochun (洞庭碧螺春), Huangshan Maofeng (黄山毛峰), Lushan Yunwu (庐山云雾). Semua ini adalah merek-merek teh yang terkenal.

TEH WULONG (青茶):

Teh Wulong disebut juga ‘Daun Teh Berpinggiran merah’, karena fermentasi hanya terjadi di bagian pinggir dari dauh teh, sedangkan bagian tengahnya tidak. Teh jenis ini yang bermutu tinggi ada cukup banyak. Daerah penghasil teh jenis ini terutama ada di bagian tenggara dari negeri Tiongkok, yaitu di Fujian, Taiwan dan Guangdong. Teh jenis ini diberi nama berdasarkan jenis dari pohon tehnya. Seperti misalnya, Teh Wulong (乌龙茶), Tie Guanyin (铁观音), Shuixian (水仙), dsb.

TEH HITAM (红茶):

Teh jenis ini merupakan hasil dari fermentasi. Saat diseduh, air teh dan daun tehnya akan berubah menjadi warna merah. Makanya disebut dengan teh hitam. Teh jenis ini adalah teh yang sering kita minum sehari-hari. Juga merupakan teh yang sering diminum oleh orang-orang Eropa. Daun tehnya digiling sampai halus. Diminum dengan tambahan gula dan susu.

Demi kebutuhan pasar, teh jenis ini juga diproduksi di Tiongkok. Salah satu yang paling terkenal adalah Teh hitam merek Anhui Qimen (安徽祁门) dari provinsi Anhui.

Lalu apa yang dinamakan dengan Teh Kembang? Teh Kembang merek apa yang terkenal?

Teh kembang merupakan salah satu jenis dari teh hitam. Teh ini diolah dari kembang harum. Tingkat kepekatan dan keharuman teh sangat dipengaruhi oleh waktu dan tingkat kemekaran kembang saat dipetik.

Keistimewaan dari teh jenis ini adalah aromanya yang pekat dan rasanya yang menyegarkan. Ada aroma teh juga ada wangi kembang. Yang termasuk teh jenis ini adalah, Teh Melati (Jasmine Tea) - 茉莉花茶, Teh Chloranthus (Teh Bunga Mutiara)- 珠兰花茶, Teh Grapefruit (Teh Yuja) atau Citron Tea - 柚子花茶, Teh Toi Toi (Orange Blossom Tea) - 玳玳花茶, dsb.

Daerah penghasil utama teh jenis ini adalah di provinsi Fujian, Zhejiang, Jiangsu, Anhui, Sichuan, dsb.

Nah, Anda suka minum teh jenis yang mana?
 
 
Sumber Foto: https://google.com



********





2019-09-14

Tahukah Anda Darimana Asal Usul Festival Kue Bulan 中秋节 Dan Sejak Kapan Orang Tionghoa Mulai Makan Kue Bulan

Kue Bulan Atau Moon Cake

Ada 3 buah kisah legenda yang berhubungan dengan Perayaan Festival Kue Bulan atau Festival Pertengahan Musim Gugur.

Yang pertama adalah kisah legenda Kaisar Tang Ming Huang berpesiar ke Istana Rembulan. 
 
Ceritanya begini:

Pada pertengahan Musim Gugur, Kaisar Tang Ming Huang atau Tang Xuan Zong dari Dinasti Tang sedang menikmati malam purnama bersama Selir kesayangannya, Yang Gui Hui.

Luo Gong Yuan, seorang Menteri Utamanya yang konon adalah seorang Pendeta Dao (道) melemparkan sebatang tongkat. Tongkat itu kemudian berubah menjadi sebuah jembatan raksasa berwarna perak. Lalu Luo Gong Yuan menemani Kaisar berpesiar ke Istana Rembulan melalui jembatan tersebut.

Setelah peristiwa ini, di kalangan rakyat muncul kebiasaan menikmati malam purnama pada pertengahan musim gugur (中秋).

Yang kedua adalah kisah legenda Chang E terbang ke bulan. 
 
Legenda ini lebih terkenal dan tersiar secara luas. Ceritanya begini:

Hou Yi (yang dikenal sebagai Ksatria Pemanah Matahari) meminta Pil Hidup Abadi dari tempat Wang Mu Niang Niang. Ia ingin menikmati pil tersebut bersama Isterinya, Chang E agar mereka bisa hidup abadi selamanya.

Akan tetapi, tanpa sepengetahuannya diam-diam Chang E malah menghabiskan pil tersebut sekaligus. Setelah meminum pil tersebut, tubuh Chang E mendadak menjadi ringan dan di luar kendalinya, tubuhnya malah terbang ke bulan.

Semenjak itu, saat bulan lagi purnama, biasanya tepat pada pertengahan musim gugur, di kalangan rakyat akan melakukan perayaan untuk menyembah dan menyembahyangi Chang E (yang kemudian dikenal sebagai Dewi Bulan).

Yang ketiga, berkenaan dengan waktu dan musim, ada orang yang beranggapan, 中秋 -  Zhong Qiu adalah hari untuk bersembahyang dan menyembahi rembulan.

Pada Zaman Musim Semi – Musim Gugur, di kalangan rakyat sudah ada kebiasaan untuk bersembahyang dan menyembahi rembulan.

Sampai pada Zaman Dinasti Wei – Jin, barulah ada kegiatan menikmati malam purnama.

Karena kegiatan ini berlangsung pada pertengahan musim gugur, maka perayaan ini dinamakan 中秋– Zhong Qiu atau Festival Pertengahan Musim Gugur.

Lalu, sejak kapan orang Tiongkok mulai makan kue bulan?

Di akhir masa Dinasti Yuan, kehidupan rakyat sangat menderita karena banyak pejabat pemerintah yang bejat dan korup.

Pada masa itu, muncul seorang Pahlawan yang bernama Zhang Shi Cheng yang bercita-cita ingin menggulingkan kekuasaan pemerintahan Mongol (Dinasti Yuan).

Zhang Shi Cheng merencanakan pemberontakan terhadap pemerintah Mongol dengan melakukan aksi penggalangan kekuatan rakyat secara diam-diam.

Ia mengajak rakyat untuk memberontak dengan menyelipkan secarik kertas yang bertuliskan pesan-pesan rahasia ke dalam sejumlah kue agar dibaca oleh rakyat.

Kertas itu berbunyi:
 
Bunuh Si Kepang, tumpas Dinasti Yuan, tgl 15 bulan 8, Semua beraksi!
 
Karena orang Mongol mengepang rambutnya, maka mereka di sebut dengan Si Kepang. Kertas itu lalu disebarluaskan lewat kue dari satu orang ke orang lainnya.

Saat 中秋– Zhong Qiu tiba, rakyat mulai merayakan Festival Pertengahan Musim Gugur dengan memakan kue-kue tersebut. Rakyat melihat tulisan pada kertas di dalam kue-kue tersebut. Maka pecahlah pemberontakan untuk menggulingkan Dinasti Yuan.

Walaupun Zhang Shi Cheng tidak berhasil menjadi Kaisar, karena yang berhasil menjadi Kaisar adalah Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming,akan tetapi demi mengenang jasa Zhang Shi Cheng, rakyat mengabadikan hari makan kue tersebut sebagai hari makan kue bulan yang disebut juga ‘Festival Kue Bulan.’ Semenjak itu pula, kebiasaan makan kue bulan menjadi sebuah tradisi yang berkembang sampai dengan sekarang.

Ada yang menganggap, bahwa kebiasaan makan kue bulan bukan cuma ada pada masa Dinasti Ming saja.

Pada zaman Dinasti Song, Su Dong Po, Sastrawan terkenal dari Dinasti Song pernah menuliskan sebuah puisi yang berkaitan dengan kue bulan. Cuplikannya seperti ini:
 
Kue kecil seperti bulan, dalamnya renyah dan manis.
 
Kue berbentuk bulat seperti bulan inilah yang dinamakan kue bulan. Dalamnya renyah dan manis, ini menggambarkan isi dari kue bulan tersebut.

Tanggal 15 Agustus itu mengacu pada kalender Tionghoa (Kalender tani atau kalender bulan), maka kalau mengacu pada kalender gregorian (kalender internasional) yang dipakai di dunia sekarang, maka Festival Kue Bulan atau Festival Pertengahan Musim Gugur akan jatuh pada minggu kedua bulan September  sampai dengan minggu pertama bulan Oktober.
 
 
Sumber Foto: https://google.com
 
 
********









2019-09-02

Tahukah Anda Darimana Asal Usul Teh Dan Sejak Kapan Orang Tiongkok Mulai Minum Teh

Teh Tiongkok Dan Poci Teh

Teh berasal dari Negeri Tiongkok. Semua orang tahu itu. Sebenarnya lafal kata Tea dalam Bahasa Inggris itu hampir mirip-mirip dengan lafal kata Teh pada zaman Tiongkok Kuno (termasuk lafal dari Bahasa Daerahnya).

Teh berasal dari daerah di sekitar Tiongkok Bagian Tengah, Tiongkok Bagian Tenggara dan Tiongkok Barat Daya. Terutama di kawasan sekitar Yun Nan. Sampai sekarang masih sering ditemukan sejumlah tanaman teh yang umurnya sudah sangat tua.

Pada zaman Dinasti Qin dan Dinasti Han, teh sudah dijadikan sebagai minuman obat. Dari sini kita menjadi tahu, bahwa sejarah Orang Tiongkok minum teh sudah ada 2.000 tahun lebih.

Sampai dengan zaman Dinasti Tang, teh sudah tidak lagi dijadikan sebagai minuman obat, melainkan sudah berubah menjadi bahan minuman yang dinikmati oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Orang Tionghoa mempunyai sebuah peribahasa yang berbunyi:
 
 开门七件事, 柴, 米, 油, 盐, 酱, 醋, 茶. 
 
Yang bermakna: 
 
7 jenis kebutuhan pokok yang selalu harus ada dalam kehidupan sehari-hari, yakni kayu bakar, beras, minyak, garam, kecap, cuka dan teh.
 
Jadi teh disejajarkan dengan bahan-bahan kebutuhan pokok seperti kayu bakar, beras, minyak dan garam.

Dari sini kita tahu, bahwa betapa berartinya teh bagi masyarakat Tiongkok dan betapa teh memiliki kedudukan yang sangat  penting dalam kehidupan masyarakat Tionghoa.


Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi 
 
 
********